13/12/13

Puisi

di sudut mata jelas terlihat, 
di sudut hati jelas terasa,
dalam pikiran, logika mulai bekerja menyusun kebenaran
sementara itu di hati, ribuan perasaan mencoba membenarkan semuanya
perang pun panjang pun dimulai 
tanpa ada yang mau mengalah 
tanpa ada yang mau mencoba mengerti
segala macam telah dicoba untuk mendamaikan
perang terus terjadi, 
tumpah ruah darah pasukan hati
sementara itu kelelahan hantui pasukan otak
mereka tetap tak mau jalan damai untuk selesaikan ini, 
tak peduli berapa korban yang harus melayang
mereka seperti binatang 
mereka lebih buruk dari rudal
tak terkendali, dan lebih menghancurkan 
dari darah yang dapat mengalir dari seluruh tubuh
haruskah perang untuk sekedar kemauan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar